Jum. Feb 19th, 2021

Jarrak POS

Besama Membangun Bangsa

Ketua DMI Pacitan : Umat Muslim Diharapkan Ada Pendekatan Dalil Aqli dan Naqli

2 min read

PACITAN-JARRAKPOSJATIM-Situasi cukup dilematis memang tengah dialami Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kabupaten Pacitan. Betapa tidak, satu sisi kalau mereka melakukan lockdown terhadap masjid gegara wabah coronavirus disease covid-19, tentu akan banyak mendapat pertentangan dari umat muslim yang selama ini kerap beribadah di masjid. Namun seandainya tidak memberlakukan lockdown sesuai fatwa DMI Pusat dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) tentu akan dianggap salah.

Menyikapi persoalan tersebut, Ketua DMI Kabupaten Pacitan, KH Moh Nurul Huda, meminta agar masyarakat muslim di Pacitan bisa melakukan pendekatan-pendekatan, baik dengan dalil aqli ataupun naqli. “Keputusan ada di mereka untuk datang beribadah ke masjid, atau beribadah dirumah. Yang pasti kami dari DMI, sudah melaksanakan standar operasional prosedur (SOP) sesuai petunjuk dan imbauan pemerintah. Utamanya menjaga kebersihan lingkungan masjid. Termasuk perangkat yang ada di dalam, mulai karpet, toilet dan tempat wudu sudah kami sterilkan setiap hari,” terang Nurul Huda, Selasa (24/3).

Pihaknya sangat fleksibel dalam menerapkan ketentuan yang disampaikan MUI maupun DMI Pusat. Hal tersebut sangat beralasan mengingat komposisi masyarakat muslim di Pacitan tidak seheterogen mereka yang ada di kota-kota besar. “Kalau di Pacitan ini, satu sama lain masih saling kenal. Sehingga mereka bisa saling menjaga diri masing-masing ketika melaksanakan ibadah di masjid. Berbeda dengan di kota-kota besar, sangat heterogen sekali penduduknya,” jelas pria yang juga menjabat sebagai Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Pacitan ini.

Huda sangat tidak menginginkan, dibalik wabah covid-19 ini, akan menjadi media perpecahan gegara masjid tak bisa digunakan untuk ibadah salat Jumat ataupun salat berjamaah lima waktu. Seperti kejadian di Surabaya, sampai-sampai takmir masjid dikatakan sebagai Partai Komunis Indonesia (PKI). “Peristiwa semacam ini jangan sampai terjadi di Pacitan. Yang masyarakatnya saling mengedepankan toleransi dan anggah-ungguh yang begitu tinggi. Yang terpenting pesan kami, masyarakat selalu ikuti imbauan pemerintah. Kedepankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta sering-seringlah cuci tangan pakai sabun (CTPS). Lain itu jaga jarak ketika melakukan interaksi (social distancing),” pesannya. (yun).

Editor : Dedy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *