PONOROGO-JARRAKPOSJATIM-Penutupan jalur alternatif Ponorogo Trengalek, tepatnya di desa Juruk, Kecamatan Sooko, dengan menggunakan bronjong dan batu, menuai penolakan warga setempat. Aksi penolakan ini oleh warga, dinilai telah menutup jalur perekonomian kedua kabupaten bertetangga itu, dengan alasan mencegah penyebaran Covid-19.

Dari informasi yang didapat dari warga setempat, jika penutupan itu merupakan himbauan pemerintah daerah kemudian dilaksanakan oleh pemerintah desa setempat dengan menutup akses jalan. Apalagi sejauh ini, dirasakan sangat minim sosialisasi, sehingga banyak warga yang harus berputar balik.

Dengan membentangkan berbagai poster hujatan, Kamis (23/4), sejumlah wargapun menggelar aksi unjuk rasa. Pasalnya, jalur itu dianggap sangat penting bagi perekonomian warga, terutama saat musim panen seperti ini.

Pujiana, salah satu warga mengatakan, warga menuntut bronjong ini segera dibuka. Sebab, jalur ini merupakan akses ekonomi dari Ponorogo dan Trenggalek, khususnya warga kecamatan Sooko.

“Jalan ini sangat penting bagi warga, apalagi disini banyak petani hutan yang saat ini sedang panen. Kalau jalur ini ditutup, maka kami sulit untuk menjual maupun membeli hasil panen dan barang lainnya. Kita berharap kepada pemerintah kabupaten Ponorogo segera membongkar ini atau kami sendiri yang membongkar,”terangnya

Evi Purnawati, salah satu penggunakan jalan mengatakan, dirinya mengaku dari kota Tulungagung berencana menuju Pulung, Ponorogo merasa kecewa melihat jalur tersebut tidak dapat dilalui. “Kalau ditutup seperti ini ya tidak bisa lewat, kalau harus kembali dan lewat kota maka bisa ratusan kilometer,”katanya.

Wargapun berharap, agar pemerintah daerah membongkar Bronjong penutup jalan dan menggantinya dengan posko pencegahan Covid-19. (Dedy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here