PACITAN-JARRAKPOSJATIM-Gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Pemkab Pacitan, kembali memberikan peringatan kepada masyarakat, agar lebih waspada terhadap wabah Coronavirus Disease (covid-19).

Rachmad Dwiyanto, juru bicara Percepatan Penanganan Covid-19 Pacitan mengatakan, saat ini satuan tugas kembali disibukan dengan temuan baru yaitu kepulangan puluhan santri asal Pondok Pesantren Al Fattah, Kecamatan Karas, Temboro, Kabupaten Magetan ke Pacitan. Apalagi mereka tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Pacitan.

Bahkan, jumlah terbanyak ada di wilayah Kecamatan Pacitan. “Mereka tersebar di 20 desa dan lima kelurahan di wilayah Kecamatan Pacitan. Namun jumlah mayoritas ada di kawasan kota,” ujar Rachmad, Ahad (26/4).

Perlu diketahui, belum lama ini Ponpes Al Fattah, Temboro masuk dalam kluster baru episenter penyebaran coronavirus disease (covid-19). Itu diketahui setelah kepulangan sebanyak 43 santri ke negara asalnya di Malaysia. Setelah dilakukan uji swab, oleh Kementrian Kesehatan, Malaysia, ternyata ke 43 santri yang mondok di Ponpes Al Fattah, Temboro tersebut masuk dalam kluster positif Covid-19. Sementara, santri yang masih tinggal di Temboro, Magetan, ditemukan sebanyak 16 santri sudah dinyatakan positif Covid-19.

“Belum kelar penanganan klaster covid asal Sukolilo, Surabaya, kini gugus tugas dihadapkan dengan kluster yang lain, yaitu kluster Temboro Magetan. Apalagi adanya 28 santri dan santriwati yang pulang dari Temboro ke Pacitan,” ungkapnya.

Tentu, persoalan tersebut menjadikan pekerjaan rumah (PR) yang harus dituntaskan satuan tugas. “Saat ini telah dipetakan berapa jumlah santri dan santriwati yang pulang. Hampir seluruhnya menyebar di 12 kecamatan di Pacitan. Data sementara ada sekitar 28 santri dan santriwati, yang saat ini sudah berada di Pacitan. Jika dihitung bersama keluarganya bisa mencapai 60 orang,” jelas mantan Kepala Dinas Kesehatan Pacitan ini.

Masih menurut Rachmad Dwiyanto, 28 santri dan santriwati kluster Temboro itu, akan diambil jaringan mukosa dari hidung dan tenggorokan, guna dilakukan rapid diagnotic test (RDT) sekaligus uji swab oleh gugus tugas bidang kesehatan. “Kemungkinan pekan depan mereka akan kita RDT dan uji swab,” ujarnya.

Karena keterbatasan alat RDT, gugus tugas telah melakukan pengadaan sebanyak 800 unit RDT. Rachmad mengakui, awalnya alat deteksi dini, covid-19 tersebut, hanya bisa didatangkan dari China.

Sebab Kementrian Kesehatan belum memberikan rekomendasi untuk pengadaan RDT, produk lokal. “Namun seiring tingginya permintaan, Kemenkes akhirnya menggeluarkan rekomendasi untuk RDT besutan dalam negeri. Sehingga kita bisa mengadakan 800 unit, yang diperkirakan sampai pada Rabu pekan depan,” jelasnya.

Karena mendesaknya situasi, gugus tugas tetap akan memulai RDT terhadap episenter baru Temboro, secara bertahap. “Sebab saat ini, RDT kita sangat terbatas. Karena itu, sambil menunggu kedatangan RDT baru, sisa yang ada saat ini akan kita pergunakan secara bertahap,” tandasnya.(yun).

Editor : Dedy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here