MAGETAN-JARRAKPOSJATIM-Bidang  pertanian saat ini terbukti paling tangguh dalam menghadapi pandemi Covid 19. Semangat para petani, salah satunya di Kabupaten Magetan masih terbilang cukup tinggi saat ini. Sayangnya, tidak dibarengi oleh ketersedian pupuk subsidi.

Sejumlah petani di beberapa wilayah bahkan mengeluhkan sulit mendapat pupuk bersubsidi. Kalaupun ada pupuk nonsubsidi harganya selangit.

Dari data yang dihimpun di lapangan, ditemukan di desa Pragak Kecamatan Parang. Mayoritas petani mengaku kesulitan untuk mendapatkan pupuk subsidi, jatah pupuk yang diterima oleh kelompok tani dari penyalur, tidaklah mencukupi untuk di bagi kepada para anggotanya.

Sedangkan terkonfirmasi ditingkat penyalur pupuk subsidi stocnya diakuinya terbatas, akibat dampak pengurangan jumlah kuota pupuk dari produsen. Bahkan penguranga mencapai hingga setengah dari jatah tanam padi kwartal pertama lalu.

“Sekali stok datang dari produsen, langsung kami salurkan seluruhnya kepada para kelompok tani, saat ini memang permintaan dikelompok tinggi, terutama pada petani jagung, sedang stoknya terbatas,” terangnya.

Sirus 60 tahun, salah satu petani desa Pragak mengaku saat ini mengeluh dalam mendapatkan pupuk. Bahkan dari kelompok tani di desanya tidak mencukupi kebutuhan, terpaksa Ia mencari kekurangan pupuk hingga kedaerah daerah tetangga, namun pupuk subsidi juga sama, tidak tersedia. Padahal usia tanaman jagunya saat ini sudah 20 hari, wajib untuk dilakukan pemumpukan, jika telat jagungnya tidak akan tumbuh maksimal.

“Saya sudah mencari kemana mana, hingga ke kecamatan lain, sampai hari ini masih belum dapat pupuk subsidi. Ya terpaksa akan membeli pupuk nonsubsidi daripada gagal panen,” terangnya.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah terkait hal ini, Kepala Dinas Pertanian Magetan Edi Suseno mengaku belum tau persis dan bisa menjawabnya. Dirinya meminta waktu untuk menjawab usai anak buahnya melihat kondisi dilapangan.

Petani menyayangkan dinas terkait lambat dalam hal ini, padahal kelangkaan pupuk ini selalu terulang terulang terus pada setiap musim tanam. Seperti diketahui musim tanam pertama dan kedua kemaren, ketersediaan pupuk juga tidak mencukupi.

Pada saat itu Dinas Pertanian setempat beralasan, bahwa kelompok tani di Magetan telat dalam memasukkan  ke- sistem elektronik Rencana Kebutuhan Kelompok atau e-RDKK. Namun hingga hingga musim tanam ketiga hari ini ketersediaan pupuk masih sama, juga belum mencukupi, justru malah dikurangi.

Sayang, semangat bertanam ditengah pandemi saat ini, tidak didukung oleh ketersediaan pupuk subsidi cukup oleh pemerintah. Saat ini petani hanya bisa berharap kepada pemerintah untuk mengkaji ulang kebutuhan pupuk bagi petani. Selain semangat petani meningkat selama pandemi, ada dukungan infrastruktur mandiri dari petani sendiri, menjamurnya sumur pompa dalam milik warga.

Otomatis lahan yang sebelumnya tadah hujan disulap menjadi lahan produktif kian luas, adanya penambahan sumur pompa milik warga ini, membuat ketersediaan pengaturan mandiri tercukupi, sedang ketersediaan pupuk tetap tidak bertambah justru malah dikurangi. (Dedy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here