Oleh : Agus Darmawan

Pemerhati Pertanian

Bagi negara agraris sektor pertanian merupakan sektor yang sangat strategis untuk meningkatkan perekonomian negara.

Demikian juga di ponorogo sektor pertanian masih menjadi andalan dalam meningkatkan perekonomian dan penyumbang PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) terbesar prosentasenya dibanding sektor yg lain yaitu kontribusinya pada PDRB Ponorogo sekitar 30 %.
Lebih kurang 73% masyarakat Ponorogo menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian dgn rincian luas sawah mencapai 34.638 hektar dan lahan pertanian non sawah seluas 52.457 hektar.
Jumlah penduduk Ponorogo hampir 1 juta jiwa dan 73% nya hidup dari sektor pertanian. Berarti lebih dari 700.000 jiwa yg tergantung mata pencaharian pada sektor ini dgn kontribusi PDRB sekitar 30 % .
Dengan komposisi 73% dari jumlah penduduk dgn kontribusi PDRB sebesar 30% maka bisa dipastikan bahwa penduduk yg berada pada garis kemiskinan paling banyak berada pada sektor pertanian ini, terutama buruh tani dan pemilik lahan yg tidak terlalu luas. Mengapa? Ya karena yg 73 % kontribusinya 30% berarti sisanya yg 27% memberi kontribusi sebesar 70%.
Lalu bagaimana upaya Pemerintah Daerah Ponorogo terkait persoalan ini?
Dari data APBD 5 tahun terakhir berturut turut utk belanja modal di dinas pertanian kisarannya tidak pernah lebih 2 % dari total kekuatan APBD.
Dgn APBD rata rata sebesar 2 trilyun berarti kalau 2 % nya adalah sebesar 40 milyar.
Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana mungkin menyangkut nasib lebih dari 73 % masyarakat Ponorogo atau lebih dari 700.000 jiwa hanya dikasih porsi belanja modal sebesar kurang dari 2%??
Apakah ini yg dimaksud berpihak kepada nasib masyarakat kecil?
Dgn kecilnya porsi anggaran yg tidak mencapai 2 % dari total APBD untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kecil ini menunjukkan belum adanya good will atau keseriusan Pemerintah Daerah dalam menangani hal ini..
Bagaimana dampaknya?
Tentu nanti akan terlihat di bagian akhir .

Program andalan Pemerintah Daerah Kab. Ponorogo di bidang pertanian, sesuai visi misi Bupati terpilih adalah meningkatkan hasil pertanian dengan menuju pertanian organik. Dgn cara mengalokasikan bantuan POC( Pupuk Organik Cair) yg dianggarkan melalui APBD secara kontinyu setiap tahun dengan harapan meningkatkan unsur Hara dalam tanah. Sehingga program pertanian utk belanja modal yg paling banyak tersedot utk program bantuan POC ini.

Contoh:
Untuk APBD tahun 2020 dianggarkan Rp 20.225.911.500 (20,2 milyar) utk pembelian sejumlah 172.976 liter POC ( harga Rp 116.930 /liter) yg diperuntukkan untuk lahan seluas 22.373 Hektar. ( padahal luas sawah Ponorogo 34.638 Hektar). Artinya hanya 65% dari seluruh luas lahan sawah yg dapat di cover oleh program ini).
Bagaimana dengan sisanya yg 35% atau 11.265 hektar? apakah tidak dikasih bantuan?
Dan berapa rata” bantuan per hektar?
Yaitu 172.976 liter /22.373 Ha= 7,7 liter per hektar. 1 Hektar setara 7 kotak ( 1400 m2), sehingga luas perkotak sawah dapat jatah sebesar 7,7 liter : 7 =1,1 liter POC.
Dengan asumsi untuk 2 x masa tanam berarti per 1 kotak sawah hanya dapat jatah 1.1 liter : 2 =setengah liter lebih sedikit =(550 ml)
Pertanyaannya adalah: apakah 1/2 liter POC ini mampu meningkatkan hasil produktivitas sawah untuk luasan 1 kotak (1400 M 2) ???
Berapa persen peningkatan produktivitasnya??

Sejak awal program ini sdh saya ingatkan berkali kali pertanian organik tanpa melibatkan kelompok tani dalam proses pembuatannya akan sulit utk berhasil.
Daerah yg berhasil dalam program seperti ini biasanya melibatkan kelompok tani secara langsung dalam proses pembuatanya dan program seperti ini harus sustainable dan berkesinambungan. Tidak cukup hanya beli / kulakan pupuk POC lalu dibagi bagikan kepada petani..
Nggak Percaya??…
Hasilnya bisa dilihat di data matriks dibawah ini.
Mulai tahun 2015 sampai proyeksi 2020 era Bupati Pak Ipong prosentase PDRB Ponorogo dari sektor pertanian datanya terus turun dari tahun ketahun tanpa pernah satu kalipun mengalami kenaikan….
Bahkan yg lebih mengejutkan pada masa pemerintahan sebelumnya Pak Amin produktivitas atau nilai tambah prosentase PDRB dari sektor pertanian ini lebih tinggi dibanding 5 tahun terakhir ini..
Pada Masa awal Pak Amin tahun 2010 pernah mencapai 33, 15%… paling rendah 31,65 pada tahun 2015
Sedangkan di era Pak Ipong prosentase paling tinggi sebesar 30,85% tahun 2016 dan terus mengalami penurunan hingga sebesar 29,46% tahun 2020

Yang lebih aneh lagi utk anggaran 2020 ditambah program bantuan pupuk padat sejumlah 1.081.100 kg atau setara dgn 1081 ton senilai Rp 11,4 milyar tetapi disaat yg sama prosentase PDRB diproyeksikan turun dari 29,84% tahun 2019 menjadi 29,46% tahun 2020.

Bagaimana ini logikanya ? ditambah bantuan pupuk POC dan Pupuk Padat senilai Rp 31,7 milyar kok malah proyeksinya malah turun lagi prosentasenya…..
Apa gunanya bantuan pupuk POC dan pupuk padat kalau tidak bisa meningkatkan produktivitas hasil pertanian??
Apakah itu berarti tdk yakin dgn manfaat bantuan pupuk POC + pupuk padat yang senilai 31.7 milyar itu ??
Mungkin diantara para pembaca yg pernah memakai pupuk bantuan POC dari dinas pertanian ini mohon minta testimoninya…
Benarkah 1/2 botol POC ini cukup untuk memupuk 1 kotak lahan pertanian dalam 1 musim tanam? Apakah hasilnya juga meningkat?
Kalau jawabannya iya maka itu akan menjadi terobosan Ponorogo untuk sektor pertanian. (*)

#Ternyata petani kita berjalan mundur
# Kesejahteraan petani ponorogo , jauh panggang dari api…
# POC oh… POC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here