PONOROGO-JARRAKPOSJATIM-Sektor pertanian menjadi prioritas utama Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko. Terbukti, dalam 99 hari kerjanya telah melaunching Sumur atau Irigasi Air Tanah Dalam di Desa Duri Kecamatan Slahung Tahun Anggaran 2021, Kamis pagi (3/6).

Pencanangan dilakukan Bupati Kang Giri dengan dibuntikannya sirine sebagai tanda dimulainya mesin pengebor sumur dalam tersebut.

Uniknya, launching sumur dalam ini diwarnai dengan teatrikal tari tradisional serta selamatan dengan 18 tumpeng.

Ir. Andi Susetyo, MMA Kepala Dinas Pertanian melaporkan pertanian merupakan prioritas utama Bupati Sugiri Sancoko yang termaktub dalam Nawa Dharma Nyata Menuju Ponorogo Hebat.

Dalam pertanian hebat itu salah satu inovasi adalah untuk 20 hektar lahan ada satu sumur dalam.

Menurutnya, program sumur dalam ini penting dan strategis karena air masih menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan petani.

Terutama pada lahan tadah hujan, pertanian kering dan wilayah yang belum beririgasi teknis pada saat musim kemarau.

Ditambah lagi masih adanya konflik atas air yang terjadi di masyarakat. “Sehingga program inovasi sumur dalam ini penting dan strategis karena akan menambah kecukupan kebutuhan air petani,” paparnya.

“Disamping itu, program ini akan meningkatkan produktifitas berbagai komoditas tanaman terutama padi di Ponorogo,” imbuhnya.

Mengawali program ini, Bupati Sugiri memulai pembangunan sumur dalam sebanyak 25 titik yang tersebar di di 25 kelompok tani, 21 desa dan 9 kecamatan. Salah satu diantaranya yakni di Desa Duri Kecamatan Slahung.

“Sengaja kami pilih lokasi ini karena cukup tinggi untuk sumur dalam. Sehingga bisa memenuhi kebutuhan air petani di Desa Duri. Di mana luas lahan 50 hektar dan luas non sawah 25 hektar. Dengan daya gravitasi air akan mengalir ke sawah,” ungkapnya.

Disebutkannya, sumur dalam ini bersumber dari anggaran pusat sebanyak 5 titik. Sedangkan 20 titik berasal dari dana bagi hasil cukai tembakau. Pelaksanaan pembangunan swakelola padat karya sesuai Permentan No 2 Tahun 2021.

Andi Susetyo menyampaikan pula kondisi lahan pertanian yang ada di Kabupaten Ponorogo.

Luas lahan sawah kurang lebih 34.801 hektar. Sementara pertanian non sawah 54.321 hektar.

Dari 34.801 hektar sawah maka kondisi saat ini terintegrasi teknis dan indeks tanaman padinya 300 yang artinya setahun panen tiga kali itu ada 13.586 Hektar.

Sementara untuk luas lahan sawah yang akan terairi Waduk Bendo 5.227 hektar. Sisanya 15.988 hektar ini merupakan sawah tadah hujan belum beririgasi dan indeks tanamannya masih di bawah 200.

“Barang kali ini rencana yang menjadi garapan kita untuk lahan tadah hujan yang belum beririgasi teknis,” sebutnya.

Dari 15.988 hektar tersebut, kondisi sawah yang sudah ada sumur dalam sebanyak 386. Dan jika program setiap 20 hektar butuh 1 sumur dalam, maka diperlukan kekurangan sebanyak 414 unit.

Sementara Sugiri Sancoko Bupati Ponorogo menegaskan, memenuhi kebutuhan air pertanian dan memperluas lahan pertanian produktif adalah salah satu mimpi besarnya.

“Memang sempat ada yang tidak percaya. Namun ketika melihat RKPD, ternyata masih butuh banyak. Tidak hanya butuh 280 hektar saja dan itu harus dicapai setiap 20 hektar akan ada sumur dalam,” ungkapnya.

Meski begitu, Kang Giri, sapaan akrab Bupati Ponorogo itu meminta untuk mengimbangi sumur dalam ini dengan sumur resapan. “Kita sudah berhutang air ke bumi. Maka limpasan air itu tidak boleh lari kemana-mana. Dari tanah maka dikembalikan ke tanah pula,” pungkasnya. (Dedy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here